• Romantique Rooms

  • | Beranda Muka | Irama Dakwah | Serambi | Tokoh Ulama | Pemikir Barat | Pustaka Politik | Billingual BBC |

    Tuesday, July 18, 2006

    Gulai Ikan Mangur Rasa Strawberry

    E-Tafakkur - Tepat pada jam 7.45 pagi, akupun berangkat ke computer center, Aligarh Muslim University (AMU), Aligarh. Perjalanan dari rumahku menuju computer center ini membutuhkan waktu selama 15 menit dengan menggunakan sepeda. Ada beberapa tugas yang akan aku selesaikan di laboratorium computer ini, diantaranya membalas email dari teman-teman diskusi dan membaca berita dari media-media Indonesia, terutama mengenai perkembangan terakhir tentang bencana gempa bumi berskala 6.3 yang telah menelan korban lebih dari 5.000 jiwa itu.

    Dua jam kemudian, akupun keluar dari laboratorium computer dan waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi. Udara di luar sudah cukup panas, dengan perut yang masih kosong, aku menuju warung photo kopi untuk memperbanyak beberapa dokumen pendafataran M. Syarqowi, calon mahasiswa AMU. Setelah itu, barulah aku berangkat ke kantin AMU dan memesan makanan dan segelas chai sebagai sarapan pagi. Alhamdulillah, setelah perut berisi dengan sempurna pemandangan yang semula sudah mulai gelap, kini cerah kembali. Setengah jam kemudian, dengan cuaca panas yang semakin menggila, aku bergegas menuju State Bank of India cabang AMU untuk melakukan pembayaran biaya pendaftaran M. Syarqowi.

    Dari bank, dengan slip pembayaran yang sudah di tangan dan semua berkas-berkas M. Syarqowi yang sudah diisi dengan lengkap, akupun segera bertemu dengan Mr. Alwi, pegawai Pendaftaran Mahasiswa Asing di AMU. Dan aku tak ingin terlambat bertemu dengan Mr. Alwi ini. Sebab bila aku terlambat bertemu dengan Mr. Alwi, maka aku harus datang lagi pada hari berikutnya. Di luar kantor Pendaftaran Mahasiswa Asing tersebut, aku temukan Mr. Alwi sedang berdiskusi seru dengan beberapa pegawai yang lain. Begitu Mr. Alwi melihat kedatanganku, beliau langsung mengajakku untuk memasuki ruangan kantornya.

    Setelah semua proses penyerahan persyaratan pendaftaran selesai, Mr. Alwi juga sempat berbincang-bincang denganku seputar bencana gempa di Indonesia, dan beliau juga turut menyampaikan duka citanya. Ketika aku keluar dari ruangan Mr. Alwi ini, perasaanku sedikit lega, sebab sebagian amanah dari orang lain yang diberikan kepadaku sudah terlaksana. Dan sekarang aku harus kembali ke kantin untuk menunaikan hak perut pada waktu siang. Di kantin, sambil menunggu kedatangan Dudi Rochman dari warung photo kopi, aku memesan segelas chai. Dengan diselingi beberapa hirupan chai panas, aku juga melanjutkan bacaan dari novel “How Opal Mehta …” yang sempat terputus selama 2 hari. Membaca buku-buku ringan seperti novel memang lebih aku nikmati di kantin daripada di perpustakaan.

    Selang beberapa menit kemudian, Dudi Rochman sampai ke kantin dengan wajah yang sangat lesu. Ternyata Dudi juga belum sempat sarapan pagi karena ia harus segera berangkat ke universitas untuk mengikuti ujian yang akhirnya ujian tersebut ditunda hingga batas waktu yang belum ditentukan. Karena ujiannya yang ditunda itu, ia pun menyelesaikan tugasnya yang lain, yaitu memperbanyak beberapa materi kuliahnya. Wajar saja, wajahnya yang putih berseri kelihatan sangat lesu siang itu. Pukul 13.00 siang, akhirnya aku dan Dudi sepakat makan siang di kantin saja. Sebab, bila kita harus masak di rumah, maka kita harus membutuhkan banyak waktu lagi. Padahal, perut sudah mulai menjerit untuk diisi.

    Setelah selesai makan siang, Dudi memutuskan untuk pulang ke rumah saja, “mau istirahat,” katanya. Sedangkan aku memilih menuju mesjid Theologi saja yang posisinya berhadapan dengan kantin AMU ini. Aku lebih memilih untuk sholat zhuhur berjamaah saja di mesjid Theologi ini, karena aku takut bila aku langsung pulang ke rumah dengan badan yang sangat letih, aku langsung tidur.

    Kemudian pada pukul 16.00 sore, aku memilih untuk singgah ke rumah Dudi saja yang sebelumnya aku juga membeli satu kilo buah lacci sebagai pendingin kepala yang sedang terasa panas. Di rumah Dudi, aku temukan Dudi sedang tergeletak tidur dengan pulasnya. Akupun masuk tanpa salam lagi. Lagi pula, Dudi tak suka diganggu kalau ia sedang tidur. Itu sebabnya aku masuk saja dan ia juga sudah memakluminya. Ketika ia bangun dari tidurnya, ia menemukan aku sedang asik makan buah lacci. Dudi juga turut mendinginkan kepalanya dengan memakan setengah kilo buah lacci yang sudah aku sediakan. Alhamdulillah, setelah itu, akupun tidur untuk menyempurnakan perjalanan hari itu.

    Waktu sholat ashar hanya tinggal satu jam lagi. Akupun mendirikan sholat ashar dan menjelang sholat Maghrib tiba, Fadhlan Achadan pun tiba ke rumah Dudi. Sambil tersenyum manis, ia pun berkata, “Kita masak apa malam ini, Dudi?” “Masak ikan aja,” jawab Dudi sederhana. Fadhlan pun mengeluarkan uang Rs.10/- (Sepuluh Rupees) untuk membeli satu kilo ikan. Fadhlan ini adalah mahasiswa yang selalu mengajak orang untuk berpikir luas, sehingga aku harus mampu berpikir untuk merubah status uang Rs.10/- ini sehingga bisa mendapatkan satu kilo ikan mangur (lele). Setelah kami semua mendirikan sholat maghrib di rumah Dudi, barulah aku dan Dudi pergi ke pajak ikan yang tak jauh dari rumah. Karena ikan mangur ini tak banyak tulangnya, maka kita memilih ikan mangur saja. Lagi pula, Dudi juga sangat piawai untuk menggulai ikan mangur ini sehingga gulai ikan pun bisa disulapnya dengan aroma strawberry.

    Makan malam kita malam itu cukup romantis sekali. Sambal tanpa cabe buatan Fadhlan dan nasi wangi khas Zulfikar membuat gulai ikan mangur itu “khatam” tanpa tersisa sedikitpun. Setelah makan malam, semuanya duduk terdiam seperti ular kekenyangan. Walau hanya berlaukkan ikan mangur, makan itu akan terasa indah sekali bila merupakan dari hasil yang halal dan didahului kalimat Basmalah. Menariknya, sebelum makan malam, aku mandi dan sholat Isya terlebih dahulu. Sehingga selepas makan, aku bisa langsung meluruskan badan dan berlayar hingga waktu subuh tiba. Bismikkallahumma ahya wa amuutu. [Aligarh, 30 Mei 2006]

    0 Comments:

    Post a Comment

    << Home